Dimana-mana murid yang rajin memang selalu menjadi idola dan
idaman para guru, termasuk juga diantaranya saya. Mengapa bisa demikian?
Anak-anak yang rajin biasanya cenderung lebih mudah untuk diatur dan lebih
mudah untuk diarahkan ke berbagai model metode pelajaran. Sehingga para guru
tidak perlu repot-repot memberikan motivasi-motivasi yang tidak penting hanya
untuk meningkatkan semangat belajar sang murid.
Perkembangan murid-murid yang rajin juga bisa dipastikan
akan jauh lebih cepat dibandingkan murid-murid yang malas. Mengapa bisa begitu?
Karena apalah gunanya murid-murid yang memiliki kecerdasan dan daya tangkap
yang tinggi jika mereka hanya malas-malasan saja dan tidak mau belajar. Akan
jauh lebih baik murid yang memilki kecerdasan dan daya tangkap yang biasa-biasa
saja tapi memiliki semangat belajar yang tinggi.
Tapi terkadang sayang sekali jika semangat belajar mereka
yang tinggi ini harus terhambat karena teman-temannya yang suka ribut atau
ramai di kelas dan yang lebih parah lagi terkadang murid yang sebenarnya rajin
ini malah ikut-ikutan dimarahi sang guru gara-gara diajak ngobrol oleh teman
sebangkungnya. Jika hal-hal sepele seperti ini terus berlanjut, yang saya
takutkan jam belajar malah akan lebih banyak dihabiskan untuk menasehati mereka
yang suka ramai dikelas dibandingkan untuk proses belajar mengajar.
Dalam kasus ini kita tidak bisa serta merta menyalahkan sang
guru yang suka marah-marah di kelas. Dimana-dimana tidak ada guru yang marah
tanpa alasan, coba anda bayangkan jika dua atau empat anak dibiarkan saja ramai
dikelas pastinya akan menimbulkan rasa iri di benak hati murid-murid yang lain
akibatnya murid-murid yang lain juga ikut ngobrol sendiri dan tidak
menghiraukan sang guru yang sedang berada di depan kelas.
Yang perlu kita perhatikan di sini guru juga seorang manusia biasa yang memilki banyak keterbatasan seperti kita. Memimpin, mengatur, dan mendidik 15 – 30 anak dalam satu kelas bukanlah sebuah perkara yang mudah. Belum lagi jika sang guru mengajar banyak kelas jadi akan sulit sekali bagi sang guru untuk memahami karakter dan kemampuan anak-anak satu-persatu.
Yang perlu kita perhatikan di sini guru juga seorang manusia biasa yang memilki banyak keterbatasan seperti kita. Memimpin, mengatur, dan mendidik 15 – 30 anak dalam satu kelas bukanlah sebuah perkara yang mudah. Belum lagi jika sang guru mengajar banyak kelas jadi akan sulit sekali bagi sang guru untuk memahami karakter dan kemampuan anak-anak satu-persatu.
Silahkan klik link di bawah ini untuk membaca artikel lainnya :
0 komentar:
Posting Komentar